Langsung ke konten utama

CARA KERJA PIKIRAN

Kondisi hipnosis sebenarnya identik dengan gelombang otak alfa dan theta.  Saat seseorang berada dalam kondisi trance maka kisaran gelombang otaknya pasti berada di antara alfa dan theta. Yang sangat menarik, bahwa kondisi Beta, Alpha, dan Theta, merupakan kondisi umum yang berlangsung secara bergantian dalam diri kita. Suatu saat kita di kondisi Beta, kemudian sekian detik kita berpindah ke Alpha, sekian detik berpindah ke Theta, dan kembali lagi ke Beta, dan seterusnya. (Ellias.,2009). Pada saat setiap orang menuju proses tidur alami, maka yang terjadi adalah gelombang pikiran ini secara perlahan-lahan akan menurun mulai dari Beta, Alpha, Theta, kemudian Delta dimana kita benar-benar mulai tertidur. Perpindahan wilayah ini tidak berlangsung dengan cepat, sehingga sebetulnya walaupun seakan-akan seseorang sudah tampak tertidur, mungkin saja ia masih berada di wilayah Theta. Pada wilayah Theta seseorang akan merasa tertidur, suara-suara luar tidak dapat didengarkan dengan baik, tetapi justru suara-suara ini didengar dengan sangat baik oleh pikiran bawah sadarnya, dan cenderung menjadi nilai yang permanen, karena tidak disadari oleh “pikiran sadar” yang bersangkuta (Ellias.,2009).

2. Sistim pikiran manusia

          Sekalipun otak manusia adalah organ fisik yang sangat kompleks, para ilmuan bisa menemukan setidaknya ada tiga jenis system yang bekerja dan saling bekerja sama di dalamnya.

a. Conscious Mind (CM, alam sadar) 
Adalah bagian yang bersifat logika dan analitis. Ia berfungsi untuk mencari alasan-alasan mengapa ingin melakukan sesuatu, serta berurusan dengan fungsi memori sementara. Secara singkat, CM adalah sistem yang dipakai jika sedang berpikir apapun, misalnya ketika memilih menu makan siang, mencari solusi ujian, mengatur jadwal penyelesaian tugas kantor, dsb. Karena CM sifatnya terfokus dan memiliki kapasitas yang terbatas, maka  umumnya hanya bisa berpikir satu dua hal saja secara sekaligus, dan maksimumnya adalah tujuh buah ide bersamaan. . (Kahija YF, 2007)

b. Subconscious Mind (SM, alam bawah sadar) 
Bertanggung jawab terhadap penyimpanan memori jangka panjang dan pengekspresian emosi. Sistem SM sama sekali tidak memiliki keterbatasan kapasitas. Ia menyimpan segala sesuatu dengan baik, tanpa memilah-milah arti maupun nilai moralnya. Bagian ini tidak akan berpikir atau menganalisa, melainkan sekedar bereaksi sesuai apa yang sudah diprogramkan. Program-program tersebut bisa berbentuk pengalaman, kepercayaan, dan ide-ide apapun yang  dipelajari di sepanjang hidup ini. Dalam hipnosis, bagian inilah yang diakses dan diajak untuk berdialog. SM adalah pusat database dari seluruh kehidupan. Jika pintu SM telah dibuka lewat proses hipnosis, maka orang tersebut dapat memperbaiki bagian memori yang terluka, membuang memori buruk, dan menanam sugesti baru yang lebih berguna bagi hidup. Misalnya, ketika seseorang yang pernah dilukai secara emosional ketika usia kecil, ada kemungkinan SM akan berusaha melindunginya agar tidak terluka lagi. Caranya adalah dengan membuat orang itu sulit untuk merasakan sayang kepada orang lain, atau bisa juga malah menjadi sangat paranoid. Untuk bisa menyembuhkan hal tersebut, tidak bisa sekedar diberi nasihat saja (alias menggunakan logika CM). Orang tersebut harus mengunjungi SM-nya dan melakukan perawatan yang diperlukan di sana, barulah secara otomatis ia bisa mulai menikmati rasa sayang ataupun kehilangan kebiasaan paranoidnya tanpa perlu dinasihati. (Kahija YF, 2007).

c. Unconscious Mind (UM, alam tidak sadar)
Merupakan sistem yang mengontrol fungsi tubuh yang sama sekali berada diluar kendali kita, seperti pernafasan, kekebalan tubuh, kedipan mata, detak jantung, pencernaan lambung, dsb. (Kahija YF, 2007).

3. Cara Kerja pikiran manusia

         Ada dua jenis pikiran yang merupakan satu kesatuan yaitu pikiran sadar dan pikiran bawah sadar yang saling berkomunikasi dan bekerja sama dalam waktu bersamaan secara paralel. (Gunawan AW., 2005)

Pikiran sadar mempunyai empat fungsi utama :

a. Identifikasi : Mengidentifikasi informasi yang diterima melalui panca indera penglihatan,
    pendengaran, penciuman pengecap, dan sentuhan atau perasaan
b. Membandingkan : Informasi yang masuk dibandingkan dengan data base (referensi, pengalaman,       dll) yang tersimpan di dalam pikiran bawah sadar.
c. Analisa : Memeriksa informasi yang masuk dengan membagi informasi itu menjadi komponen
    yang lebih kecil agar dapat diperiksa dengan seksama
d. Memutuskan : Memutuskan respon atau tindakan yang akan diambil terhadap informasi yang telah
    masuk.

           Pikiran sadar terletak dibagian kortek otak yang mulai aktif pada usia 3 tahun. Fungsinya untuk berpikir atau logika sekitar 12% dari kemampuan otak manusia. Ketika pikiran sadar terbentuk dan berkembang, terciptalah suatu pintu pembatas antara pikiran sadar dan pikiran bawah sadar. Pintu pembatas ini terbuka bila pikiran sadar dibuat sibuk, fokus memperhatikan sesuatu, larut dalam suatu cerita, atau menggunakan hipnosis. (Prihatanto, 2009)

            Pikiran bawah sadar sekitar 88% terletak di medulla oblongata yang terbentuk sejak dalam kandungan. Sejak lahir hingga usia 3 tahun, apapun yang terjadi di sekitar kita positif, negatif, gambar, tindakan, kata-kata, nada, frekwensi suara akan langsung diserap dan masuk ke pikiran bawah sadar. Pengalaman yang paling berkesan yang mempunyai komponen emosi tinggi atau intens akan menjadi informasi yang terekam sangat kuat dalam pikiran bawah sadar. Kebanyakan orang terprogram dengan kombinasi emosi positif dan negatif. Emosi  negatif membawa akibat buruk saat dewasa karena emosi ini akan selalu menghantui dan mempengaruhi perilakunya. Misalnya trauma masa kecil dengan perceraian orang tua, perasaan sebagai orang yang gagal, merasa tidak berharga. Emosi negatif dapat dihilangkan dengan bantuan hipnoterapi atau prosedur terapi bawah sadar. Emosi positif, jika terprogram di pikiran bawah sadar akan membuat orang lebih menikmati hidup, percaya diri, mudah mencapai sukses. (Gunawan AW ., 2005)

Pikiran bawah sadar menyimpan hal-hal berikut :

a. Kebiasaan (baik, buruk, reflek)
b. Emosi. Bagaimana perasaan kita terhadap hal-hal tertentu, terhadap orang lain.
c. Memori jangka panjang. Tempat menyimpan informasi yang bersifat permanen. Ada memori yang
    tidak dapat diingat dalam kondisi sadar, namun dapat dimunculkan dengan bantuan hipnosis.
d. Kepribadian
e. Intuisi. Perasaan mengetahui sesuatu secara instingtif, berhubungan dengan spiritual 
f.  Kreativitas. Kemampuan mengubah visi, pemikiran, impian menjadi kenyataan.
g. Persepsi. Bagaimana kita melihat dunia menurut kaca mata kita
h. Belief dan value. Belief adalah segala sesuatu yang kita yakini sebagai hal yang benar. Value atau
    nilai adalah segala sesuatu yang kita pandang sebagai hal yang penting.

          Pikiran sadar dan bawah sadar berkomunikasi satu dengan yang lain dengan atau tanpa kita sadari. Pikiran sadar mengirimkan berita ke pikiran bawah sadar untuk melakukan sesuatu, begitu pikiran sadar berpikir maka otot-otot yang sesuai segera bergerak menjalankan perintah tersebut yang dikendalikan pikiran bawah sadar, hal tersebut terjadi oleh karena hasil latihan sejak kecil. (IBH.,2002). Pikiran bawah sadar  tidak selalu sejalan dengan pikiran sadar. Kadang kadang pikiran bawah sadar sudah memiliki program sendiri , emosi, kebiasaan, kepercayaan, yang sudah tertanam sebelumnya. Ternyata pikiran bawah sadar  mempengaruhi sikap dan perilaku manusia dibandingkan pikiran sadar. (IBH.,2002)

         Pikiran manusia terdiri dari program-program yang diinstall ke dalamnya, dimana pemrograman ini dimulai sejak masa kanak-kanak khususnya lima tahun pertama sehingga cukup berpengaruh dalam kehidupan seseorang di masa-masa berikutnya. Oleh karena itu bisa ditebak bagaimana pengaruh program positif atau negatif yang sudah terinstall dalam pikiran. Menariknya program-program tersebut mirip komputer bisa diganti atau diubah dengan program baru. Salah satunya dengan mengakses bawah sadar melalui hipnosis. Oleh sebab itu hipnosis bisa digunakan untuk terapi yaitu memrogram ulang pikiran dengan cara mengganti program negatif menjadi program positif. (Fachry HA., 2008)

C. Reticular activating System

          Sejak lahir seseorang telah mulai mendapat program terutama dari orang tua, apapun yang dialami selama proses pertumbuhan dan perkembangan kita merupakan proses pemrograman yang tanpa disadari membentuk diri seseorang hingga saat ini. Semua pengalaman hidup yang berasal dari lingkungan, keluarga, orangtua, sekolah, guru, televisi, buku, majalah, dll merupakan stimulus eksternal (berasal dari luar) Stimulus ini diterima oleh kelima panca indera dan masuk ke pikiran sadar yang kemudian memberikan makna kepada stimulus tersebut. Dari pikiran sadar stimulus akan masuk ke pikiran bawah sadar melalui filter RAS (Reticular Activating System). Ada beberapa faktor yang mempengaruhi luasnya filter RAS ini terbuka antara lain kondisi gelombang otak, pemikiran, dan emosi. Selain itu RAS  berfungsi menentukan apa yang menjadi fokus perhatian, menentukan seberapa besar tingkat intensitas perhatian, dan berapa lama perhatian itu diberikan. (Gunawan AW.,2005). Filter RAS berfungsi sebagai pengaman untuk menyaring pikiran dan perilaku baru. Filter membandingkan informasi baru dengan kepercayaan yang ada dalam pikiran bawah sadar. Hal itu bertujuan agar pikiran bawah sadar tidak selalu berubah dan tidak mudah dipengaruhi sugesti dari luar. Ada lima cara untuk bisa melewati filter RAS masuk ke pikiran bawah sadar yaitu : (Gunawan.,2005)
-  Repetisi : dilakukan secara berulang dan konsisten sehingga masuk di pikiran bawah sadar.
-  Identifikasi kelompok : Mengikuti kebiasaan kelompok misalnya budaya, cara makan, bicara,
-  Otoritas : disampaikan oleh seseorang yang memiliki otoritas, pakar, dihormati dapat dengan
    mudah diterima pikiran bawah sadar
-  Emosi : kejadian yang diikuti dengan emosi tinggi akan sangat membekas
-  Hipnosis : menjangkau pikiran bawah sadar dengan tehnik komunikasi yang mampu melewati
    pikiran bawah sadar. Hipnosis ini merupakan cara yang paling cepat dan efektif. 

D. Belief Sistem

           Belief sistem (kepercayaan) sebagai kunci perubahan hidup. Terutama dipengaruhi oleh pikiran yang ada dalam diri setiap orang.  Dalam melakukan perubahan hidup  belief menentukan cara berpikir, berkomunikasi dan bertindak seseorang. Belief atau  kepercayaan atau cara berpikir mempengaruhi perilaku dan sikap seseorang yang akhirnya akan menentukan level keberhasilan hidupnya.  

Ada dua makna belief atau kepercayaan menurut ensiklopedia Encarta:  
1. Penerimaan akan kebenaran sesuatu: penerimaan oleh pikiran bahwa sesuatu adalah benar ada
    atau nyata, sering kali didasari perasaan pasti yang bersifat emosional atau spiritual, 
2. Keyakinan bahwa seseorang atau sesuatu bersifat baik atau akan efektif. Namun secara
    sederhana belief dapat diartikan sebagai sesuatu yang kita yakini benar. Begitu kita meyakini
    sesuatu sebagai hal yang benar maka akan sulit mengubah keyakinan itu.

III. KONSEP DASAR HIPNOSIS  

          Pikiran bawah sadar manusia menyimpan misteri yang luar biasa. Banyak hal yang menyangkut manusia bersumber dari berbagai data dan nilai yang tersimpan di pikiran bawah sadar. Pikiran bawah sadar tidak saja terkait dengan perilaku dan mental, tetapi lebih jauh lagi pikiran bawah sadar dapat merubah metabolisme, mempercepat penyembuhan, atau bahkan memperburuk suatu kondisi penyakit. (Rusli SI, Wijaya SA.,2009).

A. Subconcious Programming. 

      Pada hipnosis dikenal istilah Subconcious Programming dimana rangsang yang diterima seseorang melalui panca indera (visual, auditorik, kinesetik, gustatorik dan olfaktorik) akan mempengaruhi belief system maupun self image yang ditentukan oleh kira-kira 12 % produk concious dan 88 % subconscious. Dengan dasar inilah konsep hipnosis bekerja untuk memberikan nilai-nilai baru pada seseorang yang akhirnya akan berdampak pada perubahan pola pikir maupun tindakan seseorang yang telah menjalani proses hipnosis (Rusli.,2009)

B. Proses hipnosis.  

        Adalah proses untuk merubah kondisi normal state ke kondisi hipnotic state. Hipnotic State adalah suatu kondisi dimana seseorang cenderung lebih sugestif sehingga dapat menerima saran-saran yang dapat berubah menjadi nilai-nilai baru. Dengan mengistirahatkan pikiran sadar (conscious mind) melalui hipnosis, seseorang dapat diberikan memori, saran, atau sugesti yang dapat memprogram ulang pikiran bawah sadarnya untuk berbagai tujuan positif. Hipnotic State bervariasi untuk setiap situasi dan kondisi dari mulai tingkatan sugestif ringan sampai dengan sugestif ekstrim. Proses hipnosis dilakukan dengan cara merubah konsentrasi dari fokus eksternal ke fokus internal yang dapat dilakukan sendiri (Self Hipnosis) atau dengan bantuan orang lain. Mereka yang memiliki kondisi kejiwaan yang relatif tenang atau terbiasa berkonsentrasi ke internal (meditasi, doa, dsb) cenderung untuk lebih mudah memasuki Hipnotic State (IBH, 2002). Termination  adalah suatu tahapan untuk mengakhiri proses hipnosis dengan konsep dasar memberikan sugesti agar subjek tidak mengalami kejutan psikologis ketika terbangun dari tidur hypnosis, biasanya dengan membangun sugesti yang positif yang akan membuat tubuh subjek lebih segar dan rileks kemudian diikuti beberapa regresi selama beberapa detik untuk membawa subjek ke keadaan normal kembali. (IBH, 2002). Saat proses hypnosis yang terjadi adalah pengaktifkan sistem saraf parasimpatik sehingga subjek menjadi sangat rileks dan nyaman. Hal ini sangat bermanfaat dalam melakukan terapi karena subjek akan tetap rileks, meskipun fobia atau trauma sedang ditangani.   (IBH, 2002). 

        Terdapat dua sistem saraf, yaitu sistem saraf otonom dan sistem saraf pusat. Sistem saraf otonom mengatur sistem internal, yang biasanya merupakan gerak yang di luar kendali pikiran sadar. Yang termasuk dalam kendali sistem saraf otonom, antara lain adalah detak jantung, sistem pencernaan, dan aktivitas kelenjar. Sistem saraf pusat mengatur respons motorik hingga impresi sensori melalui otak dan saraf pada tulang belakang. (IBH, 2002).

Sistem saraf otonom terbagi menjadi dua bagian, yang cara kerjanya saling bertolak belakang.

1. Sistem saraf simpatik, yang bertanggung jawab terhadap mobilisasi energi tubuh untuk kebutuhan yang bersifat darurat. misalnya, jantung berdetak lebih cepat dan lebih kuat, tekanan darah meningkat, atau pernapasan menjadi lebih cepat. Saat mengalami ketakutan secara fisik yang terjadi adalah: lutut dan tangan  gemetar, telapak tangan dan wajah  berkeringat, jantung berdebar lebih kencang dan keras, tarikan napas lebih cepat, dan perut terasa tidak enak atau mungkin mual. Semua itu disebabkan karena sistem saraf simpatik sedang in-action sebagai respons dari perasaan takut dan tegang.
2. Sistem saraf parasimpatik mengakibatkan detak jantung melambat, tekanan darah turun, dan respons insting dari kondisi istirahat dan relaksasi. Respons parasimpatik mengakibatkan seseorang menjadi lebih tenang dan nyaman. Semua itu bertujuan untuk menghemat energi tubuh.
Kedua sistem saraf, simpatik dan parasimpatik, tidak bisa aktif bersamaan. (IBH, 2002)

IV. NYERI 

A. Definisi

         Pada tahun 1979, International Association for the Study of Pain mendefinisikan nyeri sebagai : Suatu pengalaman sensori dan emosi yang tidak menyenangkan, yang berkaitan dengan kerusakan jaringan yang nyata atau yang berpotensi untuk menimbulkan kerusakan jaringan. Rasa nyeri selalu merupakan sesuatu yang bersifat subjektif. Setiap individu mempelajari nyeri melalui pengalaman yang berhubungan langsung dengan luka (injury), yang terjadi pada masa awal kehidupannya. Secara klinis, nyeri adalah apapun yang diungkapkan oleh pasien mengonai sesuatu yang dirasakannya sebagai suatu hal yang tidak menyenangkan / sangat mengganggu (Meliala dkk, 2001)

B. Klasifikasi Nyeri

Klasifikasi nyeri berdasarkan etiologi dibagi atas : (Meliala, 2004)
1. Nyeri Fisiologi
2. Nyeri Inflamasi
3. Nyeri Neuropati
4. Nyeri Psikogenik

C. Konsep Hipnosis dalam Penanganan Nyeri

       Metode non farmakologik untuk mengendalikan nyeri dapat dibagi menjadi dua kelompok : terapi dan modalitas fisik serta strategi kognitif-perilaku. Terapi fisik untuk meredakan nyeri mencakup beragam bentuk stimulasi kulit (pijat, stimulasi saraf dengan listrik transkutis, akupungtur,, aplikasi panas atau dingin, olahraga). Sedangkan, startegi kognitif-prilaku bermanfaat dalam mengubah persepsi pasien terhadap nyeri, dan member pasien perasaan yang lebih mampu untuk mengendalikan nyeri. Strategi ini mencakup relaksasi, penciptaan khayalan (imagery), hypnosis, dan biofeedback. (Goldmann, 2003)

          Laporan klinis mengenai efikasi hipnosis untuk mengontrol nyeri telah ditemukan oleh Esdaile (1846), seorang ahli bedah yang mengembangkan hipnosis sebagai anestesi untuk amputasi di India, dimana efikasi hipnosis mencapai 80%  (Spiegel 1985)

Terdapat 3 prinsip umum yang mendasari penggunaan hipnosis dalam penanganan nyeri yaitu : (Spiegel, 1985)

1. Menyaring ekspresi nyeri, Pasien dapat memahami bahwa tidak terdapat korelasi antara intensitas
    stimulus nyeri dengan besarnya penderitaan yang diakibatkannya..
2. Tidak bertarung melawan nyeri. Berjuanglah bersama dengan nyeri, berdialoglah dengannya atau
    menjadi  marah hanya membuatnya menjadi lebih parah. Pada kenyataannya ketegangan reaktif
    otot-otot di sekitar area nyeri akan benar-benar meningkatkan sensasi nyeri. Pasien dapat belajar
    bahwa dengan relaksasi fisik yang sederhana mereka dapat meredakan nyeri itu sendiri.
3. Gunakan self hipnosis. Hal ini akan memberikan sense of control dan penguasaan yang lebih besar
    atas pengalaman mereka.

D. Konsep Hipnoterapi pada Patofisiologi Nyeri

          Impuls nyeri merupakan impuls darurat yang melalui jalur sensorik menuju thalamus. Sinyal tersebut seharusnya menuju ke korteks sensorik, tetapi sebagian besar sinyal tersebut mengalami pembajakan dan dibelokkan menuju amigdala dan sebagian kecil menuju korteks sensorik untukproses kognitif dan berlanjut ke korteks transisional untuk proses kognitif selanjutnya (Mulyata, 2005). Amigdala yang merupakan pusat perubahan emosi belum siap menerima  sinyal yang bersifat darurat dan mengirimkannya ke hipotalamus terutama nukleus paraventrikularis. Nukleus hipothalami merespon sinyal darurat tersebut dengan melepas corticotropin releasing factor (CRF) yang juga bersifat darurat yang selanjutnya mengaktifkan hipofise dan sistem saraf otonom (Kaplan, 1995., Cit. Mulyata, 2005). Impuls nyeri berjalan menuju thalamus direspon dengan melepas CRF dari hipotalamus, sinyal darurat dari CRF akan mengaktifkan serabut preganglioner simpatis kemudian memicu adrenal melepas kortisol berlebihan, CRF juga mengaktifkan pituitaria untuk melepas ACTH yang juga akan memicu kortisol berlebihan dan menekan sistim imun, sementara pengeluaran β-endorfin ditekan sehingga akan memicu pengeluaran sitokin proinflamasi, dimana sitokin dan mediator proinflamasi mengaktifkan reseptor nyeri perifer yang selanjutnya membawa signal nyeri ke thalamus dan korteks somatosensorik,  sehingga meningkatkan rasa nyeri (Raison & Miller, 2003., Mulyata, 2005)

          Dengan hipnoterapi, sinyal kognitif berjalan ke otak melalui jalur sensorik, auditorik dan visual. Sinyal ini sifatnya tidak darurat, sesudah mencapai thalamus kemudian ke korteks sensorik tanpa mengalami pembajakan, terus berlanjut ke korteks transisional untuk proses kontrol kognitif. Selanjutnya diproyeksikan ke hippokampus untuk disimpan sebagai memori, selain itu sebagian sinyal diproyeksikan ke amigdala serta organ lain yang terkait untuk diekspresikan ke luar. Sinyal  kognitif tersebut memiliki kemampuan untuk menghentikan arus pembajakan sinyal darurat dari korteks menuju amigdala dan dari amigdala menuju hippothalamus (Le Doux, 1988., Cit.Mulyata, 2005)

       Dengan demikian sinyal yang berasal dari pemberian psikoterapi sesudah mencapai korteks untuk proses kognisi, saat diproyeksikan ke hippokampus dan ke amigdala sudah merupakan sinyal yang tertata baik, sedang sinyal darurat yang menimbulkan nyeri sudah terhambat dan hilang (Le Doux, 1988., Cit.Mulyata, 2005)

E. Konsep hipnoterapi pada Analgesia

         Pada umumnya hipnoterapi untuk analgesia menggunakan tehnik pendekatan psikologis dimana bekerjanya dengan cara meningkatkan daya coping pasien. Daya coping ini terbentuk sejak masa kanak-kanak, tetapi daya coping ini juga dapat dibentuk dan dikembangkan dengan cara pendidikan dan latihan, yang mana akan dihasilkan perubahan persepsi nyeri pada pasien. (Folkman & Lazarus, 1988., Cit. Mulyata, 2005)

F. Aplikasi Hipnosis pada Nyeri

           Hypnobirthing merupakan sebuah paradigma baru dalam pengajaran melahirkan secara alami, Teknik ini mudah dipelajari, melibatkan relaksasi yang mendalam, pola pernapasan lambat dan petunjuk cara melepaskan endorfin dari dalam tubuh (zat relaksan alami tubuh) yang memungkinkan calon ibu menikmati proses kelahiran yang aman, lembut, cepat dan tanpa proses pembedahan. (Prihantanto., 2008). Melahirkan dengan teknik ini banyak memberi manfaat bagi calon ibu, antara lain rasa nyaman, berkurangnya rasa sakit (bahkan ada yang tidak merasakan sakit sama sekali) hingga rasa bahagia. Teknik ini mudah dipelajari, melibatkan relaksasi yang mendalam, pola pernapasan lambat dan petunjuk cara melepaskan endorfin dari dalam tubuh (relaksan alami tubuh) yang memungkinkan calon ibu menikmati proses kelahiran yang aman, lembut, cepat dan tanpa proses pembedahan. 


           Hypnobirthing dicetuskan pakar ginekologi Dr. Grantly Dick-Read, dalam bukunya Childbirth Without Fear pada 1944. Hypnobirthing selanjutnya dikembangkan oleh Marie Mongan, pendiri HypnoBirthing Institute. Terapi ini mengajarkan para ibu untuk memahami dan melepaskan Fear-Tension-Pain Syndrome yang seringkali menjadi penyebab kesakitan dan ketidaknyamanan selama proses kelahiran. Saat perempuan yang melahirkan terbebas dari rasa takut, otot-otot di tubuhnya termasuk otot rahim akan mengalami relaksasi, yang akan membuahkan proses kelahiran yang lebih mudah dan bebas stres. Dalam beberapa kasus, tahapan proses kelahiran juga menjadi lebih pendek, mengurangi kelelahan selama perjuangan melahirkan bayi dan ibu akan tetap segar, penuh energi setelah melahirkan.“Bisa dikatakan Hypnobirthing membuat proses melahirkan bebas dari rasa takut, tidak bebas dari rasa sakit, meskipun beberapa perempuan mengalami proses melahirkan tanpa rasa sakit sama sekali,” ujar Mongan. “Mengurangi ketakutan akan membuat tubuh ibu bekerja seperti yang seharusnya Dengan memahami betapa efektifnya jawaban tubuh terhadap proses melahirkan yang lebih lembut, seorang ibu HypnoBirthing memiliki keahlian secara lisan dan visual mengenai kemampuan alaminya dalam mengikuti cara alami ideal melahirkan. Secara cepat ibu akan belajar mempercayai insting melahirkan pada tubuhnya, bahwa tubuhnya diciptakan untuk bekerja dalam irama yang selaras saat mengeluarkan bayi ke dunia.“Ada perbedaan besar antara Hypnobirthing dan kelas pendidikan melahirkan lainnya, dan ini bukanlah hanya potongan hipnotis. Hypnobirthing lebih menekankan melahirkan dengan cara positif, lembut, aman dan bagaimana mencapainya dengan mudah,” ujar Mongan. Pada 1958, the American Medical Association menyetujui terapi dengan menggunakan hipnotis, meski sejauh ini terapi hipnotis yang dipakai untuk memudahkan proses kelahiran bayi belum banyak diketahui publik. (Prihantanto., 2008).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEMINAR MEMBEDAH MENTAL BLOCK

Seminar Hypnomotivasi membedah Mental Block, di akhiri berjalan di atas beling. wooww banget kan... seminar ini rutin di laksanakan di berbagai tempat. untuk mengikutinya silakan hubungi admin yang tertera di pamflet

META MODE

Menyusun Kembali Pola Pikir Yang Tidak Bermanfaat Dengan META MODEL NLP Oleh : Widyarini, S.Psi Widyaiswara Madya BDK Malang Ilustrasi : Sore itu kudengar seorang teman sedang menggerutu, “Huh, sial banget aku hari ini”. “Ada apa ?”, tanyaku. Teman itu kemudian menjawab : “Semua urusanku hari ini tidak ada yang beres !”. “Semua urusan ?” tanyaku, seraya menekankan kata “semua” dalam kalimatku. Sejenak dia tertegun, dan menjawab dengan suara yang tidak selantang seperti sebelumnya : “Ya… enggak semua sih”. “Berapa banyak urusanmu hari ini, dan ada berapa urusan yang tidak beres ?”, tanyaku lebih lanjut. Sambil menghela nafas, dia menjawab lirih : “Ya banyak urusan, yang lain beres, tapi yang satu ini nih …”. Dengan segera aku menyahut : “Oh, jadi seharian ini hanya satu urusanmu yang tidak beres?”. Dia hanya mengangguk, sambil bergumam : “Iya, hanya satu saja urusan yang tidak beres”. ( ….. dan seterusnya). Sepertinya dia baru menyadari bahwa pikiran tenta...

4 Pilar NLP

Luangkan sejenak waktu untuk bertanya dan berkaca kepada diri kita sendiri. Sekedar untuk melihat bagaimana cerminan diri dan mengetahui seberapa efektif usaha yang sudah kita lakukan selama ini. Apakah usaha yang kita lakukan selama ini ibarat mencari jarum di tumpukan jerami? Jika memang benar-benar iya, apakah kita akan terus melanjutkannya? Terkadang kita tidak menyadari jika apa yang kita lakukan sebenarnya sia-sia. Meskipun dalam NLP kita percaya jika apa yang kita lakukan, dapatkan dan rasakan pasti bermakna pada diri kita, kemampuan kita dalam melihat peluang pun harus kita maksimalkan. Jadi untuk mengejar mobil, kita juga harus menggunakan mobil atau minimal sepeda motor, jangan menggunakan unta. NLP Ibarat Mencari Berlian Di Siang Hari SNLP menjadikan hidup kita terasa lebih hidup. NLP membuat gairah kita kembali terbangun dari tidur panjangnya. NLP begitu cepat mengakselerasi perubahan seseorang. Sudah banyak orang diluar sana yang berhasil menikmatinya. Apakah ...