Menyusun Kembali Pola Pikir Yang Tidak Bermanfaat
Dengan META MODEL NLP
Oleh : Widyarini, S.Psi
Widyaiswara Madya BDK Malang
Ilustrasi :
Sore itu kudengar seorang teman sedang menggerutu, “Huh,
sial banget aku
hari ini”. “Ada apa ?”, tanyaku. Teman itu kemudian menjawab
: “Semua urusanku hari
ini tidak ada yang beres !”. “Semua urusan ?” tanyaku,
seraya menekankan kata
“semua” dalam kalimatku. Sejenak dia tertegun, dan menjawab
dengan suara yang
tidak selantang seperti sebelumnya : “Ya… enggak semua sih”.
“Berapa banyak
urusanmu hari ini, dan ada berapa urusan yang tidak beres
?”, tanyaku lebih lanjut.
Sambil menghela nafas, dia menjawab lirih : “Ya banyak
urusan, yang lain beres, tapi
yang satu ini nih …”. Dengan segera aku menyahut : “Oh, jadi
seharian ini hanya satu
urusanmu yang tidak beres?”. Dia hanya mengangguk, sambil
bergumam : “Iya, hanya
satu saja urusan yang tidak beres”. ( ….. dan seterusnya).
Sepertinya dia baru menyadari bahwa pikiran tentang masalah
yang besar
sekali (sepanjang hari, semua urusan tidak ada yang beres),
ternyata tidak semua
urusan !. Kebuntuan pemikiran, tiba-tiba saja terurai dalam
sekejap. Gambaran
masalah yang besar tadi tiba-tiba berubah menjadi lebih
jelas, spesifik, dan lebih kecil
dari sebelumnya.” Bagaimana ‘pencerahan’ itu bisa terjadi ?
Sistem Representasi : menyusun pengalaman internal
Ketika kita berinteraksi dengan orang lain dan dunia sekitar
kita, maka pada
saat itu indera kita, yaitu penglihatan, pendengaran,
perasa, penciuman dan
pengecap atau visual, auditory, kinesthetic, olfactory dan
gustatory (VAKOG),
menerima dan mencerap berbagai stimulus. Stimulus-stimulus
tersebut menjadi
data indera yang masuk, diterima, diolah dan diberi makna.
Makna-makna yang
terbentuk merupakan hasil proses representasi penginderaan
yang dilakukan oleh
panca indera kita. Apa yang kita lihat, kita dengar, kita
rasakan, kita cium dan kita
rasakan melalui indera pengecap, kita beri kode,
diorganisir, diberi makna dan
disimpan dalam struktur tertentu dalam memori otak kita.
Meskipun banyak stimulus yang mengenai indera kita, tidak
semua stimulus
itu kita proses lebih lanjut ataupun tidak kita respon
semuanya. Kita memiliki
kecenderungan untuk tidak memberikan perhatian yang sama
dalam memproses
seluruh stimulus yang mengenai indera kita. Otak kita
memilih dan mem-filter
stimulus-stimulus tersebut. Dengan demikian ketika kita
berusaha merepresentasi -
menghadirkan kembali perwakilan gambaran tentang - realitas
dan dunia yang kita
hadapi di dalam pikiran kita, maka hasilnya tidaklah selengkap
atau sedetail realitas
dan dunia yang sesungguhnya. Seorang ahli Semantik, Alfred
Korzybski menyatakan
bahwa “The Map is not the territory” (Peta tidak mewakili
wilayah yang
sesungguhnya). Model (struktur gambaran) yang kita buat di
dalam otak (pikiran)
dan bahasa yang digunakan untuk merepresentasikan dunia di
sekitar kita bukanlah
dunia itu sendiri, tetapi hanyalah representasi (gambaran
perwakilan) dari dunia
tersebut (Dilts dan DeLozier, dalam John David Hoag, 2013).
Peta tersebut kemudian
kita gunakan untuk merespon. Coba kita ingat, pada saat ada
orang yang berbicara
kepada kita maka kita akan merespon pembicaraan tersebut
sebagaimana pemikiran
kita tentang makna perkataan orang itu. Bisa jadi makna yang
kita pikirkan dan
respon yang kita berikan sesuai dengan yang dimaksudkan.
Namun bisa pula terjadi
kesalahpahaman dalam pemberian makna, sehingga respon yang
kita berikan tidak
sesuai. Apa respon Anda ketika ada orang yang berkata kepada
Anda : “Saya tidak
suka Anda !”. Langsung marahkah kita ?, atau kita perlu tahu
terlebih dahulu, ‘hal
apa’ dari diri kita yang membuatnya tidak suka ?. Agar
menjadi orang yang efektif,
maka kita harus clear mind agar bisa merespon secara tepat.
Pernyataan “Saya tidak
suka Anda !” menunjukkan makna sebuah gambaran dari model
(peta) tentang diri
kita yang ada dalam pikiran orang itu. Oleh karena itu, kita
perlu tahu struktur
didalamnya. Pendekatan Neuro Linguistic Programming (NLP)
memberikan tools
untuk mengetahui struktur model itu, yaitu dengan Meta
Model. Meta Model
memungkinkan kita melakukan klarifikasi : “Hal apa pada diri
saya yang
membuatmu tidak suka ?” atau “Apa saja yang tidak kamu sukai
dari saya?”. Setelah
clear, maka responlah perkataan “Saya tidak suka Anda”
secara adekuat dan
proporsional.
Tulisan berikut menjelaskan macam filtering dan bagaimana
bentuknya, serta
bagaimana mengaplikasikan Meta Model sebagai salah satu
tools untuk
‘memperbaiki’ struktur berpikir yang tidak bermanfaat.
Saringan Dalam Persepsi : Deletion, Distortion dan
Generalization
Kesalahpahaman dalam pemaknaan (sebagaimana contoh diatas)
terjadi
karena setiap individu, masing-masing melakukan proses
filtering (penyaringan)
terhadap stimulus-stimulus yang dicerap oleh inderanya.
Terdapat 3 (tiga)
kecenderungan filtering yang dilakukan manusia pada saat
membuat peta atau
model tentang dunia disekitarnya, yaitu : Deletion,
Distortion dan Generalization.
Realitas dan dunia yang kita alami, kita konstruksi kembali
dalam pikiran kita
dengan menggunakan satu, dua atau bahkan ketiga saringan
tersebut. Dalam konteks
tertentu, filtering ini yang dapat menyebabkan ‘kesesatan’
atau ketidakjelasan dalam
berpikir.
Menurut Bandler dan Grinder dalam John David Hoag, 2013,
Deletion
merupakan proses dimana kita secara selektif memberikan
perhatian pada dimensidimensi
tertentu dari pengalaman-pengalaman kita dan meniadakan yang
lainnya.
Contohnya adalah ; jika Anda ditanya apa saja yang telah
Anda lakukan hari ini sejak
Anda bangun tidur pada pagi hari hingga saat ini ? Sebagian
besar dari kita akan
menjawab, bangun tidur lalu mandi, sholat, makan pagi,
berangkat ke kantor lalu
bekerja di kantor … dan seterusnya. Mari kita cermati
jawaban ini. Benarkah kita
bangun tidur lalu mandi ? Ada berapa kegiatan lain diantara
bangun tidur dan mandi
yang telah kita lakukan ? Bukankah ketika kita bangun tidur
kita membuka mata
terlebih dahulu, kemudian duduk dan bangit dari tempat
tidur, lalu berjalan menuju
pintu kamar, memegang handel pintu dan membukanya, terus
berjalan keluar
kamar….. dan seterusnya. Setelah mandi bukannya kita
mengeringkan badan dulu
dengan handuk kemudian memakai baju, membuka pintu kamar
mandi dan keluar
dari kamar mandi dst ? Bukankah ketika kita sholat harus
berwudhu dulu ? Betapa
banyak detail kejadian yang telah kita alami, namun kita memilih
untuk
menghilangkan sebagian diantaranya. Kita hanya mengambil
sebagian untuk diberi
makna (dipersepsikan) dan disimpan dalam pikiran kita
sebagai representasi dari
seluruh pengalaman. Dengan demikan, Deletion telah mereduksi
realitas atau dunia
menjadi persepsi terhadap realitas atau dunia sekitar kita.
Kita telah mereduksi
wilayah menjadi peta atau gambaran (internal) yang cukup
proporsional sesuai
dengan daya yang kita miliki.
Dalam kehidupan sehari-hari dapat kita jumpai
pernyataan-pernyataan yang
tidak lengkap atau tidak jelas. Ada bagian informasi yang
hilang. Perhatikan
pernyataan-pernyataan berikut ini :
- “ Saya tidak suka dia !”
- “Dia tidak ada apa-apanya !”
- “Atasanku sangat menjengkelkan !”
Ketiganya adalah contoh deletion yang jika kita
berhati-hati, dapat ‘menyesatkan’
pikiran kita. Dapatkah Anda membayangkan, betapa
berbahayanya pernyataanpernyataan
tersebut jika kita langsung menelannya tanpa klarifikasi.
Distortion adalah proses saat dimana kita cenderung membuat
penggantian
pada data-data sensori yang kita alami. Contohnya adalah
fantasi, dimana pikiran
kita telah ‘mempersiapkan’ sebuah pengalaman tertentu
sebelum kejadiannya
berlangsung (realitasnya belum terjadi atau belum ada,
tetapi kita sudah
menghadirkannya - sudah ada - dalam pikiran kita). Suatu
kemampuan untuk
mendistorsi dan membuat interpretasi yang salah
(misrepresent) terhadap realitas
yang terjadi. Melalui proses inilah pikiran-pikiran kreatif
mampu dihasilkan oleh
manusia. Berikut adalah contoh kejadian distortion yang
dikutip dari Ronny F.
Ronodirdjo (2013) dalam materi pelatihan Coaching for
Improving Performance With
NLP.
Seorang penjual sedang memadamkan lampu di sebuah toko,
ketika
tiba-tiba seorang laki-laki muncul dan meminta uang. Pemilik
toko
membuka laci penyimpan uang. Isi laci penyimpan uang
langsung
dikeruk dan orang itu cepat menghilang. Peristiwa itu
langsung
dilaporkan ke anggota Kepolisian.
Apakah Anda berpikir bahwa telah terjadi perampokan di
sebuah toko ?
Apakah menurut Anda perampoknya adalah seorang laki-laki ?
Jika Anda menjawab “Ya” untuk kedua pertanyaan tersebut,
saat itulah telah terjadi
distorsi dalam pikiran kita. Dalam kutipan diatas tidak
disebutkan telah terjadi
perampokan dan perampoknya adalah seorang laki-laki. Dengan
kata lain tidak
disebutkan adanya fakta tentang perampokan yang dilakukan
oleh seorang laki-laki.
Pendapat hal itu merupakan hasil kesimpulan yang perlu diuji
kebenarannya,
mungkin benar, tapi mungkin juga keliru.
Pernahkah Anda mendengar seseorang mengeluhkan atasannya
kepada
Anda : “Atasanku bukanlah atasan yang baik, karena dia tidak
mau memberiku ijin
sehari saja untuk tidak masuk kerja !”. Rupanya pikiran
orang ini telah terdistorsi,
dimana atasan yang baik diartikan sebagai seorang atasan
yang mau memberi ijin
untuk tidak masuk kerja sehari. Didalam konteks komunikasi,
Joseph A. DeVito,
menyebut distorsi ini sebagai kekacauan karena menyimpulkan
fakta secara keliru,
dimana hal ini merupakan salah satu penyebab hambatan dalam
interaksi bahasa
dan verbal (DeVito, Joseph A.,1997)
Generalization adalah proses dimana beberapa bagian dari
kejadian yang
dialami dilepaskan dari pengalaman aslinya, dan dikumpulkan
dari beberapa
pengalaman lainnya, kemudian bagian-bagian yang terkumpul
itu di berikan kategori
atau label tertentu. Contohnya adalah, ketika di kantor kita
mendengar ada
seseorang yang berkata :
- “Memang, orang sekantor ini enggak ada yang bener !”.
Mungkin benar, dia
pernah bertemu dengan orang yang dianggapnya ‘enggak bener’
di kantor itu,
dan tentunya perlu di klarifikasi apakah benar bahwa seluruh
orang yang ada di
kantor tersebut. ‘enggak bener’ . Bagaimana pula tepatnya
perilaku ‘enggak
bener tersebut (perilaku seperti apa yang dianggap- ‘enggak
bener’ itu).
Contoh lainnya adalah :
- “Dimana-mana, pegawai sama saja. Mereka hanya mau kerja
baik kalo ada
maunya”. Coba kita periksa, apanya yang sama ? Siapa saja
yang sama ? Dimana
saja adanya ?
Dalam generalisasi, sampel perilaku maupun sampel
kejadiannya hanya beberapa
dan sebenarnya tidak cukup mewakili untuk ditarik dalam
suatu kesimpulan.
Salahkah kita memiliki ketiga kecenderungan tersebut ? Dan
apakah kecenderungan
itu selalu akan menyesatkan kita ? Jawabannya, jelas :
“TIDAK”. Dalam konteks
tertentu ketiga kecenderungan itu bisa bermanfaat, dan dalam
konteks yang lain
justru merugikan. Untuk itu, maka upaya kita berikutnya
adalah menghilangkan
akibat-akibat yang tidak bermanfaat dari deletion,
distortion dan generalization itu.
Meta Model
Prinsip dasar dalam Meta Model adalah : The Map is not
Territory ,
sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. Melalui Meta
Model, kita dapat
mempertanyakan kembali atau membuat klarifikasi berbagai hal
yang dapat
memperjelas Map (peta mental) yang terlanjur terkonstruksi
dalam struktur pikiran
kita, dan menghambat kejernihan berpikir dan berkomunikasi
dengan orang lain.
Meta Model digunakan untuk membantu kita mengenali dan
meluruskan kembali
kekeliruan berpikir (kekurang akuratan dalam menyusun model)
yang tidak
bermanfaat akibat dari deletion, distortion dan
generalization. Meta Model berarti
membuat model atas model yang telah ada. Proses dalam Meta
Model sebenarnya
adalah men-dekonstruksi struktur pemikiran yang tidak
bermanfaat. Dengan
membongkar kembali pengalaman yang telah dipersepsikan, maka
akan didapatkan
detail-detail pengalaman yang sesungguhnya, untuk
mendapatkan presisi. Setelah
presisinya kita dapatkan, maka kita bisa merekonstruksi
(menyusun kembali)
pengalaman tersebut sedemian rupa sehingga lebih bermanfaat
bagi kita.
Singkatnya, Meta Model adalah salah satu cara untuk merubah
peta (yang tidak
tepat atau tidak bermanfaat) yang terlanjur tergambar,
dengan demikian kita dapat
memiliki pola pikir efektif dan lebih bermanfaat.
Berikut adalah beberapa bentuk deletion, distortion dan
generalization, tandatandanya,
contoh, pertanyaan yang dapat kita gunakan untuk
‘men-challenge’
keakuratan peta mental yang kita miliki dan hasil yang bisa
kita peroleh setelah kita
menggunakan meta model.
1. Meta Model untuk memperbaiki Deletion.
Meta model ini bermanfaat untuk mengetahui informasi yang
dihapus dan
berusaha mengembalikannya. Deletion atau penghapusan ada
beberapa tipe,
diantaranya adalah :
a. Simple Deletion, atau penghapusan sederhana adalah
kalimat yang yang
kehilangan sebagian informasi. Pada simple deletion ditandai
dengan hilangnya
Subyek, Obyek maupun Keterangan. Perhatikan contoh kalimat
berikut : “Saya
benar-benar tertekan” . Dalam konteks tertentu kalimat ini
menimbulkan rasa
beban yang ‘berat’ . Kalimat ini adalah ungkapan struktur
luar dari suatu pengalaman
yang diberi makna ‘rasa tertekan’. Untuk memperjelasnya maka
kita bisa
mengajukan : “Tertekan oleh apa ? “, atau “Tertekan oleh
siapa ?”, atau “Tepatnya
tertekan seperti apa?”. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan
tersebut akan membuat
persepsi kita lebih akurat, karena kita kemudian mengetahui
hal-hal yang telah
dihapus. Dalam komunikasi antar pribadi, meta model ini akan
membantu kita
terhindar dari kecenderungan dalam pengambilan kesimpulan
secara keliru.
Keakuratan dalam persepsi tentang makna pesan akan membantu
kelancaran
komunikasi.
b. Comparative Deletion, atau penghapusan pembanding adalah
kalimat yang
mengandung perbandingan tetapi tidak ada standar
penilaiannya atau
kehilangan pembandingnya. Dalam kalimat ini kadang masih ada
kata
pembanding seperti : lebih, paling, atau kurang, kadang
tidak ada kata
pembanding dan tidak ada informasi tentang pembanding
(dikomparasi /
dibandingkan dengan apa). Berikut adalah contoh pernyataan
yang dihapus
pembandingnya : “Dia tidak ada apa-apanya”. Agar kita tidak
salah dalam
memberi penilaian, maka pernyataan itu perlu kita
klarifikasi dengan
pertanyaan : “Apa saja yang dibandingkan ?” atau “Dalam hal
apa dia tidak
ada apa-apanya” atau “Dia dibandingkan dengan siapa ?” .
Pertanyaanpertanyaan
tersebut berguna untuk mengetahui pembanding (standar
evaluasi yang digunakan untuk membandingkan) sehingga kita
lebih presisi
dalam mengetahui besarnya atau intensitasnya dan dalam hal
apa.
c. Lack of Referential Index, atau tidak adanya rujukan atau
sumber data yang
memadai. Kalimat yang mengandung Lack of Referential Index
ditandai
dengan tidak teridentifikasinya kata ganti orang atau benda
atau tidak
jelasnya referensi atau sumber dari pernyataan tersebut.
Biasanya kata ganti
orang yang digunakan dalam kalimat tersebut adalah :
Orang-orang, dia,
masyarakat, mereka, karyawan, dan lain-lain. Sedangkan kata
ganti benda yang
digunakan antara lain adalah : Ini, itu, hal ini, hal itu,
sesuatu, …. tertentu, dan lainlain.
Contoh pernyataan yang mengandung Lack of Referential Index
adalah
sebagai berikut : “Ada sesuatu yang dirasakan oleh
masyarakat, sehingga
mereka menolak membayar pajak” atau “Banyak orang enggan
membayar
pajak karena berbagai hal”. Pertanyaan mendasar pertama yang
bisa kita
ajukan untuk klarifikasi adalah : “Kata siapa ?” atau
“Menurut siapa ?” , atau
“Siapa saja yang beranggapan seperti itu?”. Ketika
mengajukan pertanyaan
ini, secara sengaja kita telah mendorong orang untuk segera
berusaha
mencari rujukan atau atas dasar apa ia mengatakan hal itu.
Klarifikasi dapat
dilanjutkan dengan pertanyaan : “Masyarakat yang mana?” atau
“Siapa yang
Anda maksud dengan masyarakat itu?”, “Sesuatu seperti apa
tepatnya yang
dirasakan oleh masyarakat?”, atau “Siapa saja orang yang
menurut Anda
enggan membayar pajak itu?” atau “Hal apa saja tepatnya,
yang menurut Anda
membuat orang enggan membayar pajak?”. Jawabanyang kita
dapatkan dari
pertanyaan-pertanyaan tersebut memberikan informasi yang
lebih detail dan
spesifik, karena kata gantinya bisa diketahui merujuk ke
siapa atau kepada
apa.
d. Unspecified Verbs adalah kata kerja yang tidak spesifik ,
menghapus
spesifikasi tentang apa tepatnya, bagaimana, kapan dan
dimana suatu
tindakan / kegiatan terjadi. Salah satu ciri-cirinya adalah
penggunaan katakata
: mengerjakan, melakukan, menyinggung, menyakiti, menolak,
bekerjasama dan lain-lain. Perhatikan contoh kalimat berikut
: “Saya tidak
bisa bekerjasama dengannya”. Kata bekerjasama mengandung
makna yang
luas. Agar lebih jelas dan lebih spesifik tentang apa
tepatnya yang dilakukan,
kapan, dimana dan bagaimana, maka perlu kita ajukan
pertanyaan sebagai
berikut : “Bekerja sama dalam hal apa yang tidak bisa Anda
lakukan
dengannya?”, “Pada saat apa Anda tidak bisa bekerja
dengannya?”, atau
“Bekerjasama seperti apa yang Anda maksudkan, yang tidak
dapat Anda
lakukan dengannya?”.
2. Meta Model untuk memperbaiki Distortion.
Meta Model ini bermanfaat untuk mengetahui informasi yang
telah diubah
atau terdistorsi dan berusaha mengembalikan pada informasi
aslinya. Meta model
dapat menghindarkan kecenderungan mind reader, atau orang
yang merasa tahu
benar tentang apa yang sedang dipikirkan oleh orang lain.
Berikut adalah beberapa
tipe Distortion :
a. Nominalization, adalah pembendaan atau kata kerja (yang
menunjukkan
proses) diganti dengan kata benda (yang tidak riil),
sehingga proses tersebut
menjadi tidak jelas. Meta model pada nominalization ini akan
mengembalikan
kata kerja yang dibendakan kembali menjadi prases yang
jelas. Kata-kata
yang mengalami Nominalization biasanya mengandung imbuhan
…an, ke …
an, dan imbuhan per… an. Contohnya adalah dalam kalimat
berikut :
“Pelatihan kemarin membosankan”. Agar maksud kalimatnya
lebih jelas,
maka perlu diklarifikasi dengan pertanyaan : “Bagaimana
tepatnya pelatihan
itu dilaksanakan?” atau “Membosankan itu tepatnya yang
seperti apa?”.
b. Cause/ Effect, atau sebab akibat adalah anggapan bahwa
stimulus tertentu
dianggap mengakibatkan suatu hal tertentu atau suatu
kejadian dianggap
sebagai akibat dari sesuatu hal. Kesimpulan yang diambil
berdasarkan
anggapan adanya hubungan sebab akibat diantara dua hal dapat
menyebabkan distorsi karena pada kenyataannya ada dua hal
yang sekilas
sepertinya berhubungan, padahal jika digali lebih lanjut
ternyata keduanya
tidak berhubungan atau setidaknya tidak menjadi penyebab langsung.
Pernyataan sebab / akibat seringkali ditandai dengan
kata-kata : membuat,
menjadi, maka menjadikan, akibatnya,, sehingga, akhirnya,
hasilnya, karena,
karenanya, oleh karena itu, sebab, disebabkan dan lain-lain.
Contohnya :
“Atasanku membuatku menderita”. Kalau kita menerima begitu
saja pernyataan ini,
maka kita akan beranggapan betapa ‘jahatnya’ si atasan.
Namun coba kita challenge
pernyataan itu agar kita tahu ‘seberapa jahat si atasan’
atau benarkah si atasan itu
‘jahat’ : “Apa tepatnya yang telah dilakukan oleh atasan
Anda hingga Anda merasa
menderita?”. Jawaban atas pertanyaan tersebut akan
memunculkan pilihan /
alternatif hubungan sebab akibat yang lain. Contoh lainnya
adalah : “Banyak lulusan
S2 dari luar negeri yang sudah kembali, sehingga sekarang
karirku sulit
berkembang di BPPK ”. Benarkah demikian ? Coba kita perjelas
dengan beberapa
pertanyaan berikut : “Menurut Anda, apa yang dimaksud dengan
mengembangkan
karir di BPPK?”, “Di bagian apa tepatnya yang Anda maksud di
BPPK itu ?”, “Apa
yang dilakukan oleh para lulusan itu, sehingga karir Anda
tidak bisa berkembang ?”
dan “Apakah Anda sudah pernah melakukan suatu kegiatan dalam
rangka
pengembangan karir Anda ?”. Melalui pertanyaan-pertanyaan
tersebut pikiran kita
menjadi lebih clear dan lebih runtut dalam berlogika.
Jawaban atas pertanyaan
tersebut dapat memunculkan pilihan-pilihan tindakan lain
yang barangkali belum
pernah terpikirkan.
c. Mind Reading, adalah anggapan atau klaim bahwa seseorang
dapat
mengetahui pikiran atau perasaan orang lain. Pernyataan yang
mengandung
mind reading kadang ditandai dengan kata-kata : “Saya tahu
…” atau “Saya
mengerti,… “ . Perhatikan contoh pernyataan berikut : “Aku
tahu, kamu pasti
tidak suka dengan tindakanku” . Coba kita ajukan beberapa
pertanyaan
berikut : “Dari mana kamu tahu hal itu ?” , atau “Bagaimana
kamu bisa
memastikan bahwa aku tidak suka dengan tindakan Anda?” atau
“Apa yang
telah Anda lihat / dengar / dan alami sehingga Anda
menyimpulkan seperti
itu ?”. Pertanyaan-pertanyaan dalam memeta model
kecenderungan mind
reading akan menguji akurasi sumber informasinya ataukah
hanya sekedar
tebakan atau sangkaan.
d. Complex Equivalence, artinya menyamakan makna dari dua
hal, atau
menyimpulkan berdasarkan keyakinan bahwa hasil akhirnya akan
sama.
Kalimat yang mengandung complex equivalence kadang ditandai
dengan katakata
: adalah, artinya, yaitu, sama dengan, sama artinya,
berarti, dan lain-lain.
Kata-kata tersebut digunakan untuk mengungkapkan kesamaan
makna,
seperti contoh berikut : “Dia tidak menuruti kemauanku, itu
artinya dia tidak
mencintaiku”. Untuk memunculkan kejelasan pemaknaan
‘menuruti
kemauan’ dan ‘tidak mencintai’, maka dapat kita ajukan
pertanyaan berikut :
“Bagaimana tepatnya tidak menuruti kemauan bisa berarti
tidak mencintai ?”
atau “Tidak menuruti kemauan yang mana / yang seperti apa
sehingga
berarti tidak mencintai ?”. Pertanyaan-pertanyaan semacam
ini dapat
membantu mengurai proses kognitif (pikiran internal) yang
terjadi saat itu.
e. Lost Performative, adalah suatu opini, pernyataan atau
pendapat yang
kehilangan ‘siapa’ sumbernya. Kalimatnya berbentuk statement
atau
pernyataan pendapat, seperti misalnya : “Berani kotor itu
baik”. Mari kita
klarifikasi dengan pertanyaan-pertanyaan berikut : “Kata
siapa ?”, “Menurut
siapa ?” atau “Bagaimana Anda tahu bahwa berani kotor itu
baik ?” Melalui
pertanyaan-pertanyaan itu kita menjadi tahu dari mana asal
sumber beliefnya
atau nara sumbernya.
3. Meta Model untuk memperbaiki Generalization
Meta model ini berguna untuk mengetahui informasi-informasi
yang
disederhanakan atau merupakan hasil generalisasi, sehingga
perlu dibuat lebih
spesifik. Dengan memeta model (sesuatu yang sebelumnya
merupakan hasil
generalisasi) dapat membuka batas model dunia (map) yang
sudah terbentuk dan
melihat kembali secara per-kasus. Berikut adalah beberapa
tipe Generalization :
a. Universal Quantifier, adalah kecenderungan untuk
menggeneralisasi dengan
cara menghilangkan adanya pengecualian atau pilihan-pilihan
lain.
Menggeneralisasi kuantitas berkaitan dengan dua hal, yaitu
jumlah dan
frekuensi. Jika hal itu terkait dengan jumlah, maka biasanya
ditandai dengan
kata-kata : setiap, seluruh, semua, tak seorangpun, semua
orang, siapapun,
setiap orang dan lain-lain. Sedangkan jika terkait dengan
frekuensi, maka
biasanya terdapat kata-kata : selalu, tidak pernah, tidak
sekalipun, dan lainlain.
Pernahkan Anda mendengar kalimat seperti ini : “Di kantor
ini tak
seorangpun yang mau mengerti aku”. Jika keluhan itu
ditujukan kepada
Anda, maka Anda dapat ‘meluruskan’ pernyataan perasaan itu
dengan
pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut : “ Semuanya ?” ,
“Tidak ada
seorangpun yang mau mengerti ?”, “Siapa saja tepatnya ?”.
Dijamin, orang
tersebut akan segera menyadari ‘kekeliruan’ pikirannya
sendiri. Contoh yang
terkait dengan pernyataan frekuensi adalah : “Kamu memang
selalu
menentangku !”. Jika ada seseorang berkata demikian kepada
Anda, coba
ajukan pertanyaan sebagai berikut : “Selalu ?, kapan saja
tepatnya ?”. Dengan
mengajukan pertanyaan tersebut, kita telah memberi
kesempatan kepada
orang yang menyatakan itu untuk membuka batas model atau
peta yang ada
di pikirannya. Ia akan mendapati kenyataan bahwa “ternyata
tidak
semuanya” atau ternyata “tidak selalu”. Dengan demikian kita
telah
membantu dia untuk membetulkan peta di pikirannya, yang
tidak
bermanfaat tersebut.
b. Modal Operator of Necessity, adalah generalisasi yang
mensyaratkan aktivitas
tertentu. Misalnya dengan kata-kata : harus / tidak
seharusnya, seharusnya /
tidak seharusnya atau semestinya / tidak semestinya.
Contohnya adalah :
“Dia harus memenuhi permintan saya”. Pertanyaan yang kita
ajukan antara
lain adalah : “Bagaimana jika dia tidak memenuhi
permintaanmu ?”, atau
“Apa yang akan terjadi jika dia tidak menurutimu?”. Pertanyaan-pertanyaan
tersebut tujuannya adalah untuk menguji tingkat
‘keharusannya’, batasan
efek yang ada dalam pikirannya atau akibat/ konsekuensi yang
dipersepsikannya.
c. Modal Operator of Possibility, generalisasi tipe ini
mengakibatkan makna
tidak adanya pilihan. Biasanya ditandai dengan kata-kata :
todak bisa, tidak
dapat, tidak mungkin, dan lain-lain. Perhatikan contoh
berikut : “Saya tidak
bisa melakukannya”. Mari kita tantang dia dengan pertanyaan
: “Apa yang
menghalangi / mencegah Anda untuk bisa melakukannya ?”.
Jawaban atas
pertanyaan tersebut akan menuntun kita dan orang tersebut
untuk
mengetahui penyebab hilangnya pilihan atau
kemungkinan-kemungkinan
(possibilities).
d. Linguistic Presupposition, merupakan generalisasi karena
adanya asumsi
yang tersembunyi atau adanya asumsi (pendapat / keyakinan)
yang tidak
dikatakan secara jelas. Contohnya adalah dalam kalimat
berikut : “Kalau
kamu mengerti aku, pasti kamu akan melakukan hal yang sama”.
Kita bisa
menanyakan asumsi yang mendasari pernyataan tersebut,
misalnya dengan
dengan mengajukan pertanyaan : “Mengerti tentang apa ?”,
“Mengapa bisa
demikian ?” atau “Bagaimana hal itu terjadi ?”.
Dalam kehidupan sehari-hari, pernyataan-pernyataan yang
mengandung
penghapusan, distorsi maupun generalisasi seringkali tidak
berdiri sendiri-sendiri
sebagaimana tipe-tipe yang sudah dijelaskan diatas. Yang
lebih sering kita jumpai
adalah pernyataan-pernyataan yang sudah bercampur aduk
proses filterisasinya.
Oleh karena itu, meta modelnya juga bisa kita variasi sedemikian
rupa sesuai
konteks dan konten percakapan untuk mendapatkan presisi atau
keakuratan dalam
menangkap makna. Ketrampilan untuk mendengarkan sangat
dibutuhkan untuk
mengenali kalimat-kalimat yang bisa ‘menyesatkan’pikiran
kita, dan ketrampilan
bertanya secara soft (tidak kentara) akan membantu pikiran
kita dan pikiran orang
lain menyusun kembali petanya supaya lebih jernih dan
akurat.
Manfaat Meta Model
Pada awalnya Meta Model banyak digunakan dalam lingkungan
terapi,
konseling dan coaching. Namun sekarang tools ini sudah
digunakan secara luas untuk
berbagai tujuan, seperti di bidang marketing, parenting,
manajerial, pendidikan,
kesehatan, investigasi dan lain-lain. Meta Model tidak hanya
untuk mengetahui
struktur pengalaman yang lebih dalam dari orang-orang yang
berinteraksi dengan
kita. Meta Model juga sangat manjur digunakan untuk
menjernihkan atau
meluruskan pikiran kita dan hebatnya kita sendiri yang
melakukannya. Kita bisa
melakukan dengan cara self talk untuk mengetahui struktur
pikiran kita atau untuk
menguji kebenaran kata-kata kita sendiri.
Berikut adalah contoh self talk –nya :
Perkataan pribadi : “Sekarang Widyaiswara susah mendapatkan
angka kredit”
Challenge pernyataan itu dengan pertanyaan :
- Widyaiswara yang mana ? Widyaiswara yang dimana ? dst.
- Apakah Widyaiswara yang lain juga mengalami ? Siapa saja
yang
mengalami ?
- Apa tepatnya yang terjadi sehingga bilang susah ?
- Usaha apa yang telah dilakukan untuk mendapatkan angka
kredit ?
- Apa tepatnya yang terjadi sehingga bilang susah ?
- Usaha apa yang telah dilakukan untuk mendapatkan angka
kredit ?
Mungkin kita akan tersipu-sipu ketika menyadari adanya
‘kesesatan’ pikiran (fallacy)
yang terjadi. Bisa jadi, tiba-tiba saja kita menjadi orang
yang ‘berhati-hati’, karena
kita menjadi merasa perlu untuk memeriksa pikiran kita
sendiri sebelum berkatakata
ataupun bertindak. Mungkin juga kita akan tersenyum-senyum
bahagia saat kita
menemukan, bahwa ternyata banyak sekali kemungkinan yang
dapat kita pilih untuk
dilakukan. Atau kita akan berteriak “AHA ….!”, saat
mendapatkan solusi jitu atas
masalah yang sedang kita alami. Selamat Mencoba !!!
Sumber :
Ronodirdjo, Ronny F., 2013, Manual Pelatihan Coaching For
Improving Performance
with NLP, Sinergy Lintas Batas
Nikolay, Hingdranata., 2012 Manual Pelatihan Licensed
Practitioner of NLP, Inspirasi
Indonesia
Hoag, John David., 2013, The NLP Meta Model, diunduh dari
www.nlpls.com/articles/NLPmetaModel pada tanggal 22 Agustus
2013
Komentar
Posting Komentar